Islam, Politics, and Culture in the Global and Local Context (Islam in America, Europe and Nusantara)

/, Opini, Penelitian, Uncategorized/Islam, Politics, and Culture in the Global and Local Context (Islam in America, Europe and Nusantara)

Islam, Politics, and Culture in the Global and Local Context (Islam in America, Europe and Nusantara)

Pusat Studi Islamic Culture and Society (ISC) Unram bekerja sama dengan Prodi Sosiologi Unram dan Majelis Adat Sasak (MAS) telah mengadakan seminar untuk kedua kalinya pada hari Selasa 29 Oktober 2019 mengambil tema “Islam, Politik, and Culture in the Global and Local Context (Islam in America, Europe and Nusantara)”. Seminar ini dihadiri oleh para pembicara dari akademisi dan praktisi yang pernah mengenyam pendidikan di dalam dan luar negeri khususnya di Australia, Amerika, Belanda dan United Kingdom.  Bahkan ada juga pembicara yang melakukan penelitian lapangan secara khusus di luar negeri. Seminar ini dihadiri oleh peserta dengan jumlah 220 orang dari kampus Universitas Mataram, UIN Mataram, IAIH Hamzanwadi Lotim, IAIH Hamzanwadi Pancor, IKIP Mataram dan mahasiswa pascasarjana dari berbagai kampus. Meskipun acara sampai sore, tetapi semangat dan antusiasme para peserta yang hadir sangat luar biasa. Tidak satupun yang keluar meninggalkan tempat acara.

Seminar ini bertujuan untuk melihat identitas Islam yang beragam dan plural di satu negara dengan negara yang lain. Perbedaan identitas ini yang seringkali menimbulkan konflik dan kesalahpahaman karena kurang informasi dan pengetahuan tentang identitas masing-masing. Misalnya dalam sambutan panitia yang disampaikan oleh Dr. Saipul Hamdi selaku ketua panitia yang juga Direktur ICS menyatakan bahwa ada gap antara Islam di negara-negara sekuler (Amerika dan Eropa) dengan Islam yang ada di belahan Timur yakni Eropa dan Asia termasuk Nusantara. Masing-masing memiliki konstruksi kebudayaan dan tradisi Islam yang berbeda-beda. Tantangan dan ancaman global terkait dengan gerakan radikalisme dan terorisme mempertajam gap tersebut, yang mana dipersepsikan orang Amerika semuanya kafir dan tidak ada yang Muslim. Sedangkan sebagian masyarakat Amerika melihat Islam sebagai agama yang mendorong kekerasan karena rujukannya adalah Islam di Timur Tengah yang sedang dilanda konflik dan peperangan.

Ketua Kaprodi Sosiologi Unram Syarifuddin, M.Si dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya acara ini dan melihat pentingnya topik seminar ini untuk kaum akademisi (mahasiswa dan dosen) dan juga masyarakat, melihat adanya perbedaan tradisi Islam yang berkembang di masing-masing negara bahkan daerah. Prof. Dr. Karyadi sebagai keynote speaker menyampaikan tentang perubahan kebudayaan dan identitas Islam yang universal. Islam boleh memiliki beragam warna, tetapi kitab suci Al-Quran harus dijadikan pegangan dalam kehidupan karena itu dari Allah, bukan dari manusia. Beliau juga menunjukkan bagaimana Al-Quran selaras dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lalu Bayu Windia, M.Si, ketua Majelis adat Sasak  (MAS) lebih fokus pada pembahasan identitas Islam Sasak. Menurut beliau bahwa masyarakat Sasak telah mengenal monoteisme dan tidak pernah menyembah berhala. Ini artinya masyarakat Sasak memiliki peradaban yang tinggi sejak kemunculannya. Mereka telah mengenal Tuhan yang disebut dengan Nenek, atau biasa diungkapkan dengan bahasa Nenek Kaji, artinya Tuhanku. Nenek sama dengan Allah, Tuhan, God, Gusti Allah dan lain-lain, kata beliau. Beliau juga mengkritisi persepsi yang salah tentang makna simbolik tradisi Sasak misalnya ceret yang dibawa ke kuburan yang dianggap pekerjaan syirik dan bidah, padahal fungsinya hanya untuk merekatkan tanah kuburan supaya tidak berlubang dan keluar baunya.

Dr. Lalau Ari Irawan, dosen Pascasarjana IKIP yang juga pengurus MAS membahas tentang local genius masyarakat Sasak. Kecerdasan masyarakat Sasak bisa dilacak dalam kalender yang mereka buat yang disebut dengan rowot. Jika selama ini kalender Masehi dan kalender Hijriah menggunakan sistem matahari dan bulan, akan tetapi di masyarakat Sasak dapat menggabungkan antara keduanya. Yang menarik dari kalender Sasak adalah peristiwa-peristiwa alam dapat dibaca peruntungannya termasuk kalender pencuri yang menghindari tanggal-tanggal tertentu untuk mencuri karena akan mengalami sial dan musibah. Beliau juga mengingatkan kepada mahasiswa dan dosen untuk terus melakukan riset agar kekayaan lokal masyarakat Sasak bisa dipelajari dan dikenal lebih jauh. Adapun Lalu Hayyan ul Haq membahas tentang teknologi, perubahan sosial dan agama. Demografi tidak hanya sebagai potensi, tetapi juga sebagai ancaman. Local area, national area dan global area harus dibangun dan ditata dengan baik karena berdampak pada eksistensi keluarga dan masyarakat. Kesemrautan antar ketiga area tersebut dapat berdampak negatif misalnya bagaimana peran dan desain lembaga pendidikan, lembaga sosial, media dan lain-lain yang akan berkontribusi pada pembangunan karakter anak. Beliau juga menyinggung adanya ancaman ideologi dan konstitusi dan ancaman sumber daya.

Setelah sesi pertama selesai, para peserta menikmati makanan, shalat dan kembali ke tempat acara untuk sesi kedua. Pada sesi ini Prof. Suprapto membuka diskusi dengan topik populisme Islam pada era Jokowi. Populisme Islam terus mengalami grafik yang meningkat sejak aksi 212 yang dikomandoi oleh FPI dan Ormas-ormas Islam lainnya. Gerakan aksi 212 berhasil mengantarkan Anies sebagai Gubernur DKI dan pola ini digunakan kembali melawan Jokowi yang dikenal sebagai patner Ahok sebelumnya. Pada Pilpres 2019, Jokowi berhasil mengatasi tekanan kelompok ini dan memenangkan Pilpres. Dr. Saipul Hamdi juga menjadi pemateri pada sesi kedua ini, beliau menceritakan tentang pengalamannya berada di Amerika Serikat selama 5 bulan untuk riset gerakan Islam transnasional Jamaah Tabligh (JT). Beliau kesulitan melakukan wawancara karena kelompok JT tidak menerima kehadiran peneliti. Dilema dan tantangan penelitian inilah yang banyak dibahas termasuk bagaimana menegosiasikan identitas peneliti dengan JT. Salah satu strategi beliau adalah menjadi bagian dari jamaah dan ikut kegiatan ritual mereka. Harus pintar-pintar cari momentum untuk dapat data, meskipun tidak bisa maksimal katanya. Dia beberapa kali diusir dari masjid dan ditolak untuk ikut berdakwah karena adanya  kecurigaan dari beberapa jamaah Tablighi.

Mahmuluddin, M.Sc, dosen Hubungan Internasional Unram ikut menjadi pemateri dan membahas tentang kompleksitas gerakan radikalisme dan terorisme. Dari hasil-hasil riset sebelumnya menurut beliau bahwa radikalisme adalah ciptaan Barat, mereka yang mendorong publikasi buku yang berisi indoktrinasi kekerasan dan ideologi takfiri. Islam hanya menjadi korban dan tesisnya Huntington telah terbukti bahwa akan ada clash besar antara peradaban Islam dengan Barat. Negara-negara yang dianggap radikal dan teroris oleh Amerika tidak lepas dari kepentingan politik dan keamanan koalisi. Justeru dari hasil survei bahwa Amerika adalah negara yang paling berbahaya dibanding negara-negara lain termasuk Iran dan Korea Utara, kata Mahmul. Arif Nasrullah, M.Hum, dosen Sosiologi Unram menjelaskan bahwa aliran itu hal yang biasa. Kita boleh memilih aliran apa saja di dalam Islam asal rukun Islam (shadat, shalat dll) masih dilaksanakan dan kita rukun dengan kelompok yang lain.

 

By |2019-10-31T08:55:48+08:00October 31st, 2019|Berita, Opini, Penelitian, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment