Resume Workshop ICS “Pembangunan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Era Revolusi Industri 4.0”

/, Opini, Penelitian, Uncategorized/Resume Workshop ICS “Pembangunan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Era Revolusi Industri 4.0”

Resume Workshop ICS “Pembangunan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Era Revolusi Industri 4.0”

Pusat Studi Islamic Culture and Society (ICS) Universitas Mataram telah mengadakan workshop yang bertemakan “penguatan dan pembangunan karakter berbasis kearifan lokal di era industri 4.0”. Workshop ini telah diadakan pada tanggal 21 Desember 2019 di Hotel Giri Puteri Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Peserta workshop yang hadir sekitar 80 orang terdiri dari mahasiswa dari berbagai kampus di antaranya mahasiswa Universitas Mataram, Undikma, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram dan Universitas Hamzanwadi Lombok Timur.

ICS mengundang para pemateri yang ahli untuk mengisi di acara tersebut di antaranya adalah Dr. L. Ari Irawan (Dosen Pasca Undikma & Pengurus Majelis Adat Sasak), Drs. H. L. Anggawa Nuraksi (Pengamat dan Praktisi Kebudayaan Sasak), dan Dr. Saipul Hamdi (Dosen Sosiologi Unram & Direktur ICS). Pemateri pertama Dr. Ari menyampaikan bahwa kekayaan khazanah budaya Sasak dapat memainkan peran sebagai modal sosial dalam penguatan karakter. Di dalam mosaik Sasak ”melting pot”  di Lombok memiliki perbedaan dengan daerah lain yaitu meleburnya menjadi satu tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Ari juga menyatakan bahwa meskipun suku Sasak adalah minoritas di tingkat nasional yaitu 1.14%, namun kita sebagai orang Sasak memiliki system  nilai yang sangat kuat dan mengakar. Oleh karena itu Majelis Adat Sasak mencoba mengubah paradigma melihat kebudayaan Sasak sebagai kebudayaan yang berjalan. Ini seiring dengan terbitnya UU Kebudayaan no 17 bahwa kebudayaan itu terus mengalami perubahan. Ada beberapa nilai dasar dalam kebudayaan masyarakat Sasak yaitu konsep tindih sebagai nilai utama yaitu berkata dan berbuat sesuai dengan apa yang dia percayai atau yakini. Konsep maliq sebagai nilai penyangga, setiap ucapannya menjadi perintah dan menjadi pantangan. Konsep reme (rukun) dan lume (murah hati) kemudian menjadi nilai instrumental.

Selain itu Dr. Ari juga membahas tentang norma-norma nilai keSasakan seperti patuh, bebaturan-besemeton, dan segeneng segeleng. Sedangkan satuan sosial Sasak bisa dilihat dari konsep pertama, bale langgak (rumah tangga) sebuah transisi dan transformasi nilai dalam diri setiap individu dalam sebuah keluarga. Kedua, gubuk gempeng yaitu kelompok rumah tangga yang terikat sebagai satu etnis sosial yang luas. Asas berinteraksi masyarakat Sasak juga disinggung oleh Ari seperti pergina (kemanfaatan, kesejahteraan bersama, tolong menolong, ilmu dan keahlian), semaik (logis dan etis), dan pemole pemujian (diri, orang lain dan alam).

Maskipun konsep besemeton (bersaudara) sangat kuat dalam kultur Sassak, akan tetapi konflik sosial justeru sering muncul di berbagai kampung. Menurut Ari bahwa orang Sasak memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan masalah misalnya mesiat yaitu adu kesaktian dengan cara berkelahi menggunakan ilmu. Jadi orang Sasak lebih suka menyelesaikan persoalan sendiri dengan gentle satau lawan satu daripada keroyokan.

Pemateri kedua Drs. H. Lalu Anggawa Nuraksi melihat keragaman kebudayaan Sasak misalnya dalam Panca Awit Pinajaran Sasak, UU kedatuan Selaparang, acara budaya dan adat. Dalam perkawinan saja terdapat 20 kearifan lokal. Panca Awit Pinajaran Sasak berisi tentang konsep Tuhan-tradisi-religious-agama-budaya-adat istiadat. Tuhan dalam budaya Sasak disebut dengan Nenek Kaji Sak Kuasa. Tuhan adalah sumber segalanya termasuk sumber pengetehuan dan ide-ide. Inilah yang kemudian melahirkan tradisi yaitu petunjuk atau tuntunan akhlak dan moral dalam kehidupan di dunia, yang berdampak pada lahirnya sikap religius dan disempurnakan menjadi sebuah agama. Kombinasi dari agama dan tradisi ini kemudian memunculkan konsep kebudayaan dan adat istiadat. Itulah rangkaian paradigma Panca Awit Pinajaran Sasak. Sebagai contoh kelompok Islam Wetu Telu itu bukanlah sebuah aliran atau organsiasi, tetapi sebuah filsafat ajaran yang melihat hubungan Tuhan, Manusia dan alam.

Anggawa juga memaparkan konsep pendidikan dalam kultur Sasak yang sudah berkembang maju sebelum ditemukan oleh masyarakat modern yaitu bedede dan bedengah. Bedede dan bedengah itu metode dalam mendidik anak, bedede yakni mendidik dengan cara menghibur anak, sedangkan bedengah itu dengan cara kasih sayang. Sebelum mengajarkan sesuatu kepada anak, mereka harus diberi hiburan dulu, biar senang belajarnya misalkan dengan cara menyanyikan atau memberikan permainan. Guru juga harus mengajar dengan bedengah atau kasih sayang, bukan marah-marah kepada siswa. Adapun tujuan dari pendekatan bedede dan bedengah ini supaya anak didiknya mampu meririk dirik (memperbaiki diri) dalam arti yang lebih luas yakni bisa beradaptasi dengan lingkungan termasuk perubahan sosial dan teknologi.

Kosmologi Sasak yang berasal dari Lombok Mirah Sasak Adi juga memiliki makna yang sangat luas dan mendalam. Lombok artinya jujur dan lurus, yang kemudian menjadi nama pulau. Lombok bukan artinya cabe yang selama ini disalahartikan oleh orang Jawa. Sasak berasal dari kata sak-sak yang artinya hanya itu, hidupnya yang lurus yang kemudian menjadi nama suku. Kejujuran dan konsistensi merupakan sesuatu yang melekat pada diri identitas orang Sasak.

Pemateri ketiga adalah Dr. Saipul Hamdi, direktur ICS yang melihat salah satu nilai keluhuran masyarakat Sasak adalah cepat percaya kepada orang lain. Dia mencontohkan praktik penggadaian sawah yang hanya dilakukan secara lisan tanpa ada bukti tulisan seperti surat perjanjian atau kwitansi. Jika sudah akad menggadaikan, tinggal serahkan uang dan orang nanggep akan mengerjakan sawahnya. Yang punya tidak boleh lagi masuk ke sawah itu, dia boleh menebus sawahnya ketika sudah ada uang pengganti. Uang tetap utuh seperti semula, tidak ada tambahan apapun. Dalam praktik merariq juga sama, menurut dosen Sosiologi Unram ini bahwa orang tua suku Sasak tidak pernah khawatir dengan anaknya ketika diculik atau dilarikan dalam proses perkawinan.

Saipul Hamdi yang biasa dipanggil Pulham ini mengkritisi praktik budaya Sasak yang konotasinya negatif, yang seringkali menjadi praktik buliying masyarakat Sasak. Misalnya ketika orang tersebut buta maka akan dipanggil dengan sebutan “pekek”, pincang “tempang”, tuli “kedok” dan lain sebagainya. Kekurangan dalam tubuh itu kemudian dijadikan bahasa buliying setiap hari, bahkan menjadi gelar populer orang tersebut. Pulham melihat praktik buliying ini menjadi bagian dari perilaku masyarakat yang sulit dihilangkan.

Pulham juga menyoroti tentang krisis identitas kebudayaan yang dialami oleh bangsa Indonesia selama masa Suharto berkuasa 32 tahun, yang mana kebudayan mengalami tekanan hebat karena kepentingan politik “nasionalisme”. Homogenisasi kebudayan dan Jawaisasi merupakan pola yang dilakukan oleh Suharto di berbagai daerah sehingga gaung kebudayaan hampir tidak terdengar. Titik balek reformasi 1998 ternyata berdampak hebat pada kebangkitan kebudayaan. Penguatan-penguatan simbol kedaerahan dan pencarian local wisdom secara tidak langsung memicu kebangkitan tersebut. Tantangannya yang kemudian sangat beragam termasuk modernitas dan teknologi yang mengancam eksistensi kebudayaan dan seni tradisional. Nyongkolan, gendang beleq, dan kecimol harus berjuang keras bersaing dengan musik-musik modern yang sanga akrab dengan media.

Menurut Pulham, tantangan terbesar dalam penguatan karakter di era digital ini ketika karakter masuk di ruang maya. Dampak negatif teknologi tidak dapat dibendung misalnya teknologi telah menggantikan posisi Tuhan. Sebagian besar manusia lebih banyak bergelut dengan teknologi seperti Hp dibanding berzikir dan tahlilan. Belum lagi kebebasan dalam menggunakan media sosial telah dimanfaatkan oleh kelompok yang tidak bertanggung jawab termasuk kelompok radikal yang mengkampanyekan ideologi kekerasan mereka. Fenomena yang mirip terjadi pada musim Pilkada dan Pilpres di Indonesia, media beralih fungsi sebagai ruang untuk saling gugat, dan mengkritisi secara berlebihan. Yang muncul kemudian media sebagai ruang penyebaran berita hoax dan fitnah.

Pulham juga memaparkan dampak positif teknologi dan media khususnya dalam konteks penguatan literasi. Dengan adanya industri 4.0 telah menyediakan data yang tidak terbatas termasuk referensi kademik. Anak-anak kemungkinan tidak akan suka membaca buku karena dianggap tradisional, mereka lebih suka membaca tulisan-tulisan di media dan menonton YouTube. Perubahan ini seharusnya mampu dibaca oleh para pegiat literasi dan juga pemerintah.

 

 

By |2020-02-03T23:42:41+08:00February 3rd, 2020|Berita, Opini, Penelitian, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment