Profile

/Profile
Profile2019-10-19T20:21:03+08:00

Islamic Culture and Society (ICS) adalah sebuah pusat studi yang bergerak di bidang keIslaman, kebudayaan dan perubahan masyarakat. ICS didirikan pada bulan Juli 2019 oleh dosen-dosen dan peneliti dari Universitas Mataram dengan berbagai latar belakang disiplin ilmu dan fokus penelitian yang berbeda-beda untuk merespon isu-isu kontemporer termasuk gerakan Islamisme, radikalisme, budaya lokal, politik global, konflik sosial, human trafficking,  buruh migran dan lain-lain. Kehadiran ICS diharapkan memperkaya dan memperkuat wacana akademik di lingkungan kampus Universitas Mataram khususnya dan masyarakat Nusa Tenggara Barat pada umumnya.

Provinsi Nusa Tenggara Barat termasuk daerah yang dikenal zona merah untuk pergerakan radikalisme dan terorisme. NTB adalah tempat yang “aman”untuk proliferasi kelompok radikalis karena jauh dari monitor pemerintah pusat. Kelompok radikal ini dalam sejarahnya merupakan pelarian dari aktivis Negara Islam Indonesia (NII) dari Jawa pada masa pemerintahan Suharto. Mereka mendirikan pesantren di Lombok Timur yang ekslusif, yang lambat laun berkembang mendirikan cabang-cabang pesantren hingga ke wilayah Sumbawa dan Bima. Mereka sulit terdeteksi karena tidak melakukan kekerasan dan pengeboman di wilayah NTB, sebaliknya beraksi di luar NTB. Persoalan ini membutuhkan langkah yang strategis dan counter wacana untuk mencegah pola penyebarannya di masyarakat. ICS fokus dengan isu ini melakukan kajian dan riset yang mendalam untuk mengurai akar persoalannya dan mencari solusi yang tepat.

Hasil riset Stara Institute yang menemukan bahwa 10 kampus di Indonesia telah terpapar radikalisme merupakan bencana sosial bagi dunia kampus. Kampus adalah institusi pendidikan yang seharusnya berperan untuk meluruskan dan mencegah virus-virus radikalisme, bukan sebaliknya menjadi alat penyebar ideologi destruktif ini. Namun faktanya, unit-unit organisasi kemahasiswaan telah dimasuki dan dijadikan tempat brain wash pengkaderan oleh kelompok yang berhaluan radikal. Wacana-wacana kebencian, Islam tertindas, dan Islam terzalimi telah membangkitkan dan membentuk pikiran dan perilaku radikal mahasiswa. Minimnya wacana tandingan “counter discourse” tentang Islam inklusif, Islam wasatiyyah, dan Islam moderat di kampus-kampus umum seolah-olah membukakan pintu untuk penyebaran paham yang sangat berbahaya ini.

ICS memiliki program yang terdiri dari penelitian, training, pendidikan dan publikasi. Khususnya publikasi, ICS telah membuat penerbitan sendiri yang dikenal dengan ICS-Unram Press yang nantinya akan mencetak buku-buku akademik dan non akademik. ICS juga aktif melakukan seminar, workshop dan pelatihan dalam rangka peningkatan kapasitas dan diseminasi pengetahuan. ICS membuka diri bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain termasuk lembaga pemerintah, NGO, kepemudaan, dan pusat studi yang memiliki fokus, visi dan misi yang sama dan saling menguntungkan.