Research

/Research
Research2019-10-19T20:05:58+08:00

Riset merupakan salah satu program ICS yang konsen pada berbagai isu di antaranya adalah radikalisme dan terorisme, gender, demokrasi dan politik, adat dan budaya lokal, teknologi dan energi terbarukan, ekonomi, kesehatan dan lingkungan. Ruang lingkup riset ICS tidak hanya pada tingkat lokal, tetapi juga nasional dan internasional. Tim riset ICS terdiri dari kalangan peneliti senior lintas disiplin ilmu untuk memperoleh multi perspektif dalam mengkaji dan meneliti sebuah objek penelitian. ICS terbuka dalam kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian lainnya dari kalangan pemerintah, swasta, kampus dan institusi riset independen.

Deradikalisasi, Pesantren dan Peace Studies

Gerakan radikalisme dan terorisme telah melanda bangsa Indonesia dan terus menguat pasca reformasi. Kasus bom Bali 2002 dan bom Sarinah 2016 menunjukkan bahwa radikalisme dan terorisme tidak pernah mati dan akan terus tumbuh dengan pola dan pendekatan yang berbeda-beda. Radikalisme dan terorisme menyebar lintas agama, lintas Ormas dan lintas gender, tidak hanya melibatkan kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Kasus calon pengantin perempuan yang siap melakukan bom bunuh diri Dian Yuli Novi jaringan Bahrun Naim adalah bukti bahwa terorisme telah menyasar perempuan dan masuk lintas gender. Upaya pemerintah dan masyarakat untuk melawan aksi terorisme dan upaya deradikalisasi penting untuk diteliti lebih jauh. Upaya-upaya ini harus mendapat dukungan melalui kampanye dan publikasi yang massif baik dalam bentuk buku, artikel jurnal atau majalah. Dengan demikian masyarakat memiliki akses terhadap informasi tersebut dan dapat memilih mana yang terbaik dan positif buat mereka di tengah kencangnya upaya radikalisasi dan terorisasi.

Sebagai lembaga pendidikan keIslaman, pesantren memainkan peran penting dalam proses deradikalisasi dan counter terorisme dengan menawarkan pembelajaran Islam yang inklusif dan reformatif. Munculnya pesantren-pesantren baru beraliran garis keras mengajarkan ideologi takfirisme, syirik, bidah, radikal dan teroris adalah tantangan baru dalam dunia pendidikan pesantren karena telah keluar dari wajah asli pesantren. Pesantren akhir-akhir ini diklaim menjadi sarang terorisme dan radikalisme oleh negara-negara Barat, tempat “cuci otak” jamaah menjadi calon pengantin. Jika pesantren tidak mampu kembali ke visi dan misi awal mengembakan Islam “rahmatan lil alamin”, maka klaim dan asumsi-asumsi tersebut akan menjadi kenyataan. Dibutuhkan wacana penyeimbang untuk mengcounter masuknya ideologi radikalisme dan terorisme di pesantren. Pesantren penting mengkampanyekan dan mengajarkan peace studies, sosial harmony dan kebhinekaan.

Gender and Minority

Ketimpangan gender dan pemberdayaan perempuan merupakan salah satu persoalan besar bangsa Indonesia yang membutuhkan pendekatan dan strategi khusus terutama di daerah-daerah yang kurang maju. NTB dan Lombok khususnya termasuk daerah yang tingkat partisipasi perempuan dalam pembangunan masih kurang bisa dilihat dari Indeks Pembangunan Gender (IPG) 59.07%, begitu juga kesadaran tentang ekualitas gender di ruang-ruang publik masih sangat rendah. Pada saat yang bersamaan konstruksi gender dalam budaya Sasak tidak memberikan ruang bagi perempuan untuk bekerja dan terlibat secara penuh, bahkan sebaliknya membatasi mereka dan menempatkan mereka pada posisi yang “holistik” sangat dihormati, dipuja, dimuliakan, dipingit, tidak boleh bekerja jauh dari orang tua, dan tidak boleh bergaul secara luas. Konstruksi budaya atas gender mainstream seperti ini menjadi tantangan besar ketika perempuan dan laki-laki harus beradaptasi dengan perubahan sosial-politik di Indonesia yang mengkampanyekan kebebasan dan menyediakan ruang dan akses yang ekual. Tidak ada pilihan lain bagi perempuan harus terlibat aktif di ruang publik untuk survive di tengah kuatnya persaingan dan tekanan ekonomi nasional dan global.

Studi gender dan keperempuanan begitu penting di Lombok dan juga NTB. Banyaknya perempuan yang memutuskan keluar menjadi TKW di Malaysia, Arab Saudi dan Taiwan adalah titik balik dari perlawanan perempuan terhadap tekanan budaya dan ekonomi yang melilit kaum perempuan. Yang menjadi persoalan adalah ketika TKW mengalami pelecehan dan kekerasan seksual di negara tempat mereka bekerja. Sedangkan di rumah sendiri perempuan Sasak dan Samawa belum terlindungi secara maksimal terlihat dengan tingginya kasus kekerasan yang menimpa mereka dalam rumah tangga. Rendahnya SDM dan skill mereka tidak mampu membuat mereka bisa bersaing dengan baik dan memperoleh pekerjaan yang layak. Status “kota seribu janda” di NTB dengan peringkat nomor 4 nasional setelah Sumatera, Aceh dan Sulawesi dengan angka 58.60% menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera mencari solusi yang tepat.

Demokrasi, Otonomi Daerah, dan Politik Lokal

Demokrasi, otonomi daerah dan politik lokal merupakan isu-isu yang akan diteliti oleh ICS dengan tujuan melihat tingkat pertumbuhan demokrasi yang berkembang di daerah-daerah. Demokrasi dalam arti sistem politik mengalami perubahan yang signifikan di Indonesia pasca reformasi, penerapan undang-undang otonomi daerah dan desentralisasi. Perubahan kebijakan politik ini berdampak luas terhadap perilaku politik dan juga kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Tingkat partisipasi tokoh-tokoh lokal dalam pesta demokrasi sangat tinggi, hampir semua kepalada daerah mulai dari gubernur, wali kota dan bupat iberasal dari putra daerah asli. Penelitian ini menjadi penting ketika politik primordialisme dan politik Sara menguat, pada saat yang bersamaan SDM putra asli daerah belum menunjukkan kualifikasi yang baik.

Tingginya tingkat konflik dan perpecahan antara warga di daerah pada setiap Pilkada termasuk isu yang krusial untuk diteliti. Di beberapa daerah Pilkada sudah berjalan dengan baik, tetapi konflik dan kekerasan masih mewarnai Pilkada. Demokrasi yang belum matang dan lemahnya kultur penerimaan keberbedaan dan keragaman  memposisikan masyarakat pada situasi yang berbahaya karena rawan dengan kekerasan dan perpecahan sosial. Polarisasi di masyarakat selalu muncul baik dalam Pemilu maupun dalam Pilkada sehingga dibutuhkan pendampingan dan pendidikan politik kepada masyarakat.

Adat dan Budaya Lokal

Lombok sangat kaya dengan tradisi, adat, dan budaya yang masih terjaga hingga sekarang. Keunikan-keunikan dapat dilihat dalam praktik tradisi lokal seperti pernikahan, sunatan, kematian, bau nyale, presian, kesenian gendang beleq, dan peringatan-peringatan hari besar Islam seperti perayaan maulid, isro’ mi’roj, nuzul al-Quran dan lain-lain. Dengan kekayaan tradisi ini menempatkan Lombok sebagai salah satu situs penelitian favorit baik oleh peneliti lokal, nasional maupun internasional. Banyak peneliti internasional yang memfokuskan penelitiannya di Lombok dan mempublikasikannya dalam bentuk buku dan jurnal. ICS melihat pentingnya penelitian secara berkelanjutan tentang adat dan budaya lokal yang belum banyak mengalami eksplorasi oleh peneliti luar. Pemaknaan tradisi dan budaya oleh peneliti insider akan berbeda dengan peneliti outsider, oleh karena itu penguatan kapasitas dan produktivitas penelitian bagi peneliti lokal sangat urgen sebagai pembanding atas hasil-hasil riset peneliti luar.

Keunikan budaya Sasak tidak hanya dilihat dari aspek adat dan budaya, tetapi juga dari aspek sejarah yang membentuk peradaban suku Sasak. Kematangan budaya Sasak mengalami ujian berat dengan datangnya kelompok migran dan penjajah seperti Bali, Belanda , Cina dan Jepang yang secara langsung mempengaruhi budaya lokal masyarakat Sasak. Asimilasi budaya antara pendatang dengan pribumi Sasak melahirkan kombinasi kebudayaan yang unik. Yang paling nampak dan menonjol adalah asimilasi antara budaya Bali dan Sasak yang masuk melintasi unsur seni, ritual dan ibadah. Sulit membedakan antara kesenian Sasak dengan Bali, begitu juga adanya sharing tempat-tempat ibadah umat Islam dengan Hindu memperlihatkan tingkat inklusivitas dan keterbukaan suku Sasak. Aliran kepercayaan Wetu Telu merupakan salah satu bukti adanya praktik sinkretisme antara Islam, Buda, Hindu dan agama lokal nenek moyang bangsa Sasak.